Pendekatan Sistem, Value Chain, dan BPM
Pendekatan Sistem, Value Chain, dan BPM
Pendahuluan
Dalam era digital ini, organisasi yang sukses adalah mereka yang mampu mengelola proses bisnisnya secara efektif. Mengorganisasi proses bukan hanya tentang membuat flowchart, tetapi juga tentang memahami bagaimana proses tersebut berinteraksi sebagai sebuah sistem terintegrasi. Artikel ini akan membahas pendekatan sistem, value chain, dan Business Process Management (BPM) sebagai cara untuk mengoptimalkan proses bisnis.
Tradisi
dan Evolusi
Dalam
sejarah manajemen proses bisnis, ada tiga tradisi utama:
- IE/QC
Tradition:
Fokus pada peningkatan proses operasional.
- Management
& Business Process Redesign Tradition: Menyelaraskan atau mengubah
proses bisnis untuk meningkatkan kinerja organisasi.
- IT
Tradition:
Fokus pada otomatisasi proses menggunakan teknologi informasi.
Saat
ini, pendekatan yang komprehensif menggabungkan ketiga tradisi ini untuk
mencapai hasil yang optimal.
Pendekatan
Sistem dalam Manajemen Proses
Pendekatan
tradisional dalam manajemen proses adalah menggunakan System
Perspective. Pendekatan ini menekankan bahwa segala sesuatu terhubung satu
sama lain, dan penting untuk memodelkan bisnis dan proses dalam hal aliran
(flows) dan umpan balik (feedback loops).
Enterprise
Process Model (EPM)
Untuk
mengelola proses secara efektif, perusahaan perlu mendefinisikan proses-proses
utama mereka dan fokus pada proses yang memberikan ROI tertinggi dalam upaya
perbaikan. Representasi tingkat tinggi dari proses perusahaan ini disebut Enterprise
Process Model (EPM). EPM memberikan gambaran besar tentang bagaimana
proses-proses berinteraksi untuk mencapai tujuan organisasi.
Organisasi
dan Proses dalam Era Transformasi Digital
Dalam
mengadopsi transformasi IT, penting untuk membuat Organization Diagram yang
mendefinisikan hubungan organisasi dengan lingkungan eksternalnya, serta
hubungan antar unit departemen di dalam organisasi. Poin kuncinya adalah
bagaimana bisnis terintegrasi dan terorganisasi untuk mencapai tujuannya.
Arsitektur
Berlapis (Layered Categories)
Klasifikasi
bagian-bagian perusahaan yang menjelaskan hubungan antara objek-objek berlapis
(layered objects) dan berbagai subjek, serta memberikan dasar untuk
pengelompokan konseptual dan logis dari objek-objek yang teridentifikasi.
Kategori-kategori ini harus didefinisikan dengan jelas, saling eksklusif, dan
kolektif lengkap (mutually exclusive, collectively exhaustive).
Klasifikasi
Proses: Integrasi dan Standardisasi
Cara
proses dieksekusi dapat diklasifikasikan dalam dua cara:
- Process
Integration:
Sejauh mana proses dalam organisasi yang sama berbagi data.
- Process
Standardization:
Sejauh mana bagian-bagian organisasi melakukan proses yang sama dengan
cara yang sama.
Contoh:
- Localized
Process, Integrated Systems & Data: Unit bisnis otonom
- Data
& Process Similar Across Unit Business: Waralaba, toko rantai ritel
Business
Process Management (BPM): Mengelola Proses Secara Holistik
Business
Process Management (BPM) adalah
disiplin yang melibatkan kombinasi pemodelan, otomatisasi, eksekusi, kontrol,
pengukuran, dan optimasi aliran aktivitas bisnis. Tujuannya adalah mendukung
tujuan perusahaan, mencakup batasan organisasi dan sistem, serta melibatkan
karyawan, pelanggan, dan mitra di dalam dan di luar perusahaan.
Inti
dari BPM:
- Process
design
- Process
metrics
- Process
performers
- Process
infrastructure
- Process
owner
Contoh
Implementasi: Pengelolaan Order-to-Cash menggunakan BPM
Sebuah
perusahaan manufaktur ingin mengoptimalkan proses Order-to-Cash (O2C) mereka.
Dengan menerapkan BPM, mereka melakukan langkah-langkah berikut:
- Pemodelan: Memetakan seluruh proses O2C
dari penerimaan pesanan hingga penerimaan pembayaran.
- Otomatisasi: Mengotomatiskan tugas-tugas
manual seperti validasi pesanan, pembuatan faktur, dan pengiriman
pengingat pembayaran.
- Eksekusi: Mengintegrasikan sistem CRM,
ERP, dan keuangan untuk menjalankan proses secara terpadu.
- Kontrol
dan Pengukuran:
Memantau metrik seperti waktu siklus O2C, tingkat kesalahan faktur, dan
tingkat koleksi pembayaran.
- Optimasi: Mengidentifikasi bottleneck
dan area perbaikan, seperti mengurangi waktu validasi pesanan atau
meningkatkan efektivitas pengingat pembayaran.
Hasilnya,
perusahaan berhasil mengurangi waktu siklus O2C sebesar 30%, meningkatkan
akurasi faktur, dan mempercepat penerimaan pembayaran.
Budaya
Proses (Process Culture)
Untuk
mengimplementasikan BPM secara efektif, perubahan budaya diperlukan. Budaya
mengacu pada nilai-nilai dan keyakinan kolektif yang membentuk sikap dan
perilaku terkait proses untuk meningkatkan kinerja bisnis.
Tantangan
dalam Mengadopsi Manajemen Proses:
Intra
organisasi |
Inter
organisasi |
Persaingan antar departemen dan
perbedaan budaya serta metode kerja |
Kesulitan dalam memvisualisasikan
batas, di mana ia dimulai dan di mana ia berakhir |
Sengketa kekuasaan; Kurangnya kesadaran
tentang tanggung jawab untuk pekerjaan akhir |
Pola perilaku antar organisasi dari
jenis menang-kalah |
Kurangnya visi tentang keseluruhan dan
kesulitan dalam memahami tujuan |
Kesulitan dalam berbagi informasi antar
perusahaan |
Kesulitan komunikasi antar area; Budaya
informasi yang melemah karena tidak berbagi |
Tingkat kematangan teknologi yang
berbeda |
Kurangnya integrasi antara sistem
informasi |
Visi terfokus pada keuntungan sendiri
dan bukan pada value chain |
Kesulitan untuk bekerja dalam tim |
Kesulitan dalam
mengintegrasikan/memahami budaya yang berbeda |
BPM
Center of Excellence (CoE)
BPM
office atau Center of Excellence (CoE) menjadi komponen kunci dari implementasi
yang sukses dalam mengelola proses bisnis. BPM dianggap sebagai aliran bisnis
yang konsisten yang mengalir melalui organisasi, mencegah organisasi dan
prosesnya dari kemunduran, membuat perbaikan berkelanjutan pada proses
organisasi, dan menyediakan sarana untuk menjalankan tujuan strategis dari
berbagai pemangku kepentingan.
Pentingnya
BPM CoE:
- Membantu
pengambilan keputusan strategis
- Meningkatkan
kelincahan bisnis untuk merespons peristiwa bisnis dengan efisien dan
efektif
- Mengorkestrasi
lintas fungsional, sumber daya, dan teknologi di antara implementasi BPM
Kesimpulan
Dengan
memahami proses sebagai sebuah sistem terintegrasi, organisasi dapat
mengidentifikasi peluang untuk perbaikan dan inovasi. Pendekatan sistem, value
chain, dan BPM memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk mengelola
proses bisnis secara efektif. Mengimplementasikan BPM dengan dukungan budaya
yang tepat dan BPM Center of Excellence akan membantu organisasi mencapai
keunggulan operasional dan daya saing yang berkelanjutan.
Komentar
Posting Komentar